Showing posts with label puasa. Show all posts
Showing posts with label puasa. Show all posts

Saturday, 13 September 2008

Ramadhan Amongst Friends

During my student days at the Shah Alam campus, I experienced Ramadhan during the years of 2005, 2006, and 2007. Eventhough I was admitted into UiTM in June 2004, I never experienced Ramadhan during that particular year, since we, first semester students completed our final examinations two days prior to the 1st of Ramadhan.

The 2005 Ramadhan was a painful one, as I was slowly recovering from unstable blood-pressure caused by over-stress during mid-April 2005; I encountered an accident during the examination period...my first awful accident. Furthermore, I was suffering heavily from insomnia and sinus (resdung), as a roommate of mine smoked heavily, and that the lights in my dormitory were seldomly switched off at night, at least not before 3am on few occasions.

The 2006 Ramadhan was a lonely one, as it was during the July - November 2006 period that I was reclused from the others, as I restructured my course plans, in which on that particular semester I only took courses that I had to repeat or postpone during previous semesters. Usually, I would break fast alone on the 11th floor of the S&T Complex (FKE block 4), as my classes were only from 6pm till 10pm, Tuesday to Thursday.

However, the 2007 Ramadhan was a prosperous one, and it is this particular Ramadhan that I wish to share the experiences I had during the respected month. In 2007, I rented an apartment together with two former classmates in Seksyen 7.

On Wednesdays, I had Microprocessor lab sessions from 6pm to 9pm under the supervision of Encik Razak Mahmud (we would call him Abe Jak). Apart from a couple of my batches, the rest were part-time students, working and married. There were ten of us in that class.

We would be given permission to prepare for iftar 10 minutes before Maghrib. The others would proceed to the dining lounge (cafe') either on the 5th floor or the secluded 4th floor. My fashion would be to proceed with my lab session until the azan is heard (I took the liberty to install an azan software on the computer I normally use in the lab, even had the nerve to play the Quran mp3 recitations throughout the lab sessions, Abe Jak didn't mind), break fast with the tamar (buah kurma), perform prayers at the level 5 prayer hall at the southern tower (Menara 1).

Only after praying would I head for the dining lounge to eat. This is because, by then the dining lounge would be almost empty, and I would not have to fight for a seat. My friends, after having seen the conveniences I had from performing prayers first, followed suit in the weeks to come.

In the coming weeks, we would be seen breaking fast together. We would lay our spread on the table; my friends, their juadah from the market, me, my cooking from home, the part time students, their wife's cooking. It was pleasing to think back during the times we would perform Maghrib together, eat and laugh together, later fooling around with Abe Jak in the lab.

On other days, I would break fast at home. Despite having two housemates, we never broke fast together. No matter how I persuaded them to join me in the living room, they would succumb theirselves to breaking fast in their rooms, in front of their respective computers, playing at World of Warcraft. At least they ate what I cooked in the kitchen.

I would very seldom break fast out of home. Not even at my sahabats' apartment in Padang Jawa, except for once or twice. This is because, I would immediately put on my jubah and serban after iftar, and head for the masjid. However, I would welcome anyone wishing to break fast at my house, especially those who would persuade me to cook for them.

Usually I would perform tarawikh at either three places; Markaz PAS Seksyen 18, Surau Najahiyyah Seksyen 19, and Masjid Lapangan Terbang Subang (on weekends only as it is reasonably far from Shah Alam). These three locations are the ones that are independent from JAIS, therefore have tazkirahs every night, given by famed scholars, among them Shahrir Long. If I were too tired to travel far, I would perform tarawikh at the masjid in front of my apartment block. I was friends with the imam, and some of the tabligh members there, one of them being formerly my neighbour in Subang Jaya.

On occasions, any three of my sahabats would break fast with me; akhi Zulhusni, akhi Yusfizal, or akhi Hafiz Muawiyyah (Apih comel). They were among my closest companions in Shah Alam. We would look out for each other. One time I was ill, Yusfizal would drop by at the market to buy food, and later join me at home to break fast together. He even cleaned the kitchen for me.

On another occasion, Zul would return late from an outside job, after midnight, and I would drive him to a nearby restaurant before dropping him off at Kolej Perindu inside UiTM.

Those were the days I experienced during my last days in Shah Alam. Today, I am in the district of Permatang Pauh. With only 14 more days to go, I doubt whether I am able to experience what I have formerly experienced in Shah Alam. Excluding Mondays, on other days I would come home after 7pm, having no time to stop anywhere. I even kept a box of kurma in my car, in the event of any unpredictable traffic congestions along the way, which might force me to break fast in the car.

However, there are a few memorable moments I have already experienced here in Permatang Pauh, but that's another story, in which I will publish under a different title. Salam Ramadhan Karim Al-Mubarak.

Thursday, 11 September 2008

'Ajibtu fii Ramadhan

Tiba Ramadhan aku kehairanan...
Umat Islam dahulukala merindui kehadiran Ramadhan...
Tetapi hari ini...
Apatah nasib...
Umat Islam menangisi kehadiran Ramadhan.

Tiba Ramadhan aku kehairanan...
Sebelum datangnya Ramadhan...
Masuknya Maghrib buat tak tahu...
Tibanya Ramadhan...
Seawal fajar tertanya - tanya bila Maghrib bakal menjelang.

Tiba Ramadhan aku kehairanan...
Sebelum datangnya Ramadhan...
Santapan petang hanyalah sekadar kuih sepinggan...
Teh-O atau kopi secawan...
Tibanya Ramadhan...
Masakan dari seluruh pelusuk dunia...
Memenuhi keempat - empat penjuru meja.

Tiba Ramadhan aku kehairanan...
Menjadi kepercayaan sang Melayu...
Roh orang mati akan pulang ke rumah...
Lalu ditabur tepung di pintu masuk...
Menanti jelmaan tapak kaki...
Bilangan cawan terhidang melebihi yang dijamu...
Sebagai santapan kepada si roh...
Sedangkan roh yang beriman memohon kepada Penciptanya...
Agar dapat pulang ke rumah...
Menasihati penghuninya agar beramal...
Lalu berkata Tuhannya...
Tidurlah engkau sepertimana tidurnya pengantin baru.

Tiba Ramadhan aku kehairanan...
Katanya Ramadhan bulan ekonomi...
Namun dikala Ramadhan lah...
Perabot dan langsir berganti baru...
Walaupun usia setahun jagung...
Kononnya dah pudar...
Malu nak mengadap mertua...
Kereta juga tak dilupa...
Tak mampu beli baru?
Sport-rim pun jadilah...
Semuanya demi niat yang satu...
Agar orang kampung terharu.

Tiba Ramadhan aku kehairanan...
Tiba sepuluh malam terakhir...
Kita diseru mencari Laylatul-qadar...
Menyembah memohon kepada-Nya...
Namun...
Malam Tujuh Likur kita gelarnya...
Mengisi hari - harinya...
Menggantung pelita panjut di keliling rumah...
Kononnya sebagai lampu mendarat...
Buat malaikat datang melawat...
Menyuluh kegelapan malam dengan bunga api dan mercun...
Mengisi kelapangan dikala malam mengadun semperit dan bahulu...
Meraikan Syawal yang bakal menjelang tiba.


Tiba Ramadhan aku kehairanan...
Sebelas bulan mentekedarah...
Sebelas bulan kulu kelior*...
Sebulan difardhu berpuasa...
Hanya sebulan, weh...
Dituntut juga mantapkan beribadah kepada-Nya...
Namun ibadah mereka tidaklah di masjid...
Pun tidak juga di rumah...
Tetapi di mat'am Mamak 24 jam...
Di bawah lembayung warung tomyam...
Meng-qada' puasa seharian...
Bergelak ketawa sesama teman...
Mengumpat anak dara si Awang...
Mengorat Timah si janda pemilik warung...

Tiba Ramadhan aku kehairanan...
Makin hari makin tua...
Makin tua makin matang...
Tapi sedih kenangkan sang Melayu...
Makin tua makin tak sedar diri...
Tibanya Ramadhan...
Kereta mayat van jenazah jadi mangsa...
Buat sarang ponteng puasa...
Kena cekup pihak berkuasa...
1000 alasan tak berpuasa...
Sedangkan badannya sasa...
Anak - anaknya separuh mati berpuasa...
Lalu terkenang daku kepada si Awang...
Ponteng puasa tak pandai cover...
Seharian berpuasa tak tertahan...
Mc'Donalds Happy Meal jadi habuan...
Bila ditanya apa tujuan...
Jawabnya adik kelaparan...
Sedang Awang anak kelapan...
Dan bongsulah barangsiapa anak kelapan.

Tiba Ramadhan aku kehairanan...
Apakah sedar atau tidak sang manusia...
Tiadalah Ramadhan itu budaya warna - warni Malaysia...
Tetapi anugerah Allah bagi mereka yang menyembah-Nya...
Lalu sedarlah wahai saudara/i ku...
Ramadhan hanya sekali tiap 12 purnama...
Bersua lagikah Ramadhan selepas ini?
Hanya Tuhan Maha Mengetahui.

Tiba Ramadhan aku kehairanan...


(*): kulu kelior = loghat Perak untuk 'ke hulu ke hilir' (merayau, merewang dll.)

Kerana Kalut Sangat Hendak Berbuka...

Di luar bulan Ramadhan, kalau masuk waktu Maghrib, kita berlengah - lengah nak pergi berwudhu', dan menunaikan solat. Tetapi, sewaktu bulan Ramadhan, Masya-ALLAH!!! Punya rasmi nak berbuka puasa.

Pukul 6 petang, terpampang depan televisyen, bukan nak tengok Jejak Rasul, atau cerita - cerita Indon yang mengarut tu, tetapi nak tengok waktu berbuka puasa. Setengah jam sebelum berbuka, tingkap rumah dibuka seluas - luasnya, sebab nak dengar azan masjid berdekatan. Kalau masjid jauh, maka dibuka radio kuat - kuat.

Sepuluh minit sebelum waktu berbuka, seluruh penghuni rumah dikerah turun duduk di meja makan. Tidak seorang pun boleh buat bising, takut tak dengar bunyi azan. Pada waktu ini juga, mereka akan 'chop' (menempah) lauk - pauk yang ada di atas meja.

Tiba waktu berbuka, maka bermulah 'Perang Dunia' apabila semua orang menyerbu lauk - pauk yang ada di atas meja, takut kena kebas dengan orang lain. Sewaktu makan, semua orang senyap, khusyu' makan (sedangkan nabi ajar kalau makan, bersembanglah. Sebab, waktu inilah kesemua ahli keluarga duduk semeja).

Lalu berulanglah corak ini sepanjang bulan Ramadhan.

Pada tahun 1960-an, berlaku suatu peristiwa yang amat 'mengerikan' yang berpunca daripada kekalutan hendak berbuka puasa, bertempat di masjid sultan di Kelang, Selangor. Pada waktu itu, isyarat masuknya waktu Maghrib ialah dengan melancarkan meriam diraja, apatah lagi di masjid sultan, meriam sultan lah (pada hari ini, di sesetengah tempat seperti Perak, khususnya Kampar, Kuala Kangsar, isyarat masuk waktu Maghrib ialah dengan membunyikan siren selama 1 minit).

20 minit sebelum berbuka, semua jemaah masjid sudah duduk mengadap talam makan. Oleh kerana 'azan' akan dikumandangkan oleh skuad meriam, maka tiada sesiapa pun yang terfikir nak tengok jam, termasuk tok imam, tok bilal, dan tok siak.

Lalu berbunyilah meriam, dan semua jemaah pakat berbuka (baca: serbu talam). Selesai makan dan minum, semua bersiap hendak solat. Tiba - tiba...

Berbunyilah meriam buat kali kedua. Lalu diperiksalah apa puncanya meriam dilepaskan buat kali kedua. Adakah Malaya diserang? Rupa - rupanya...

Letupan yang kedua menunjukkan telah masuk waktu Maghrib. Letupan yang pertama tadi datangnya dari kampung berhampiran; sekumpulan kanak - kanak sedang bermain meriam buluh.

Lalu sia - sialah puasa seharian jemaah tersebut, kerana telah 'berbuka' lebih awal daripada waktu yang ditetapkan. Terpaksalah qada' puasa pada hari tersebut.

Oleh itu, janganlah gelabah, janganlah kalut apabila hendak berbuka. Andai sekiranya waktu Maghrib engkau tak pernah terkejar - kejar nak tunaikan, janganlah engkau gatal - gatal nak terkejar - kejar berbuka puasa. Tak lari ke mana lauk itu.

Kalau takut tak sempat berbuka kerana terperangkap di dalam traffic jam, jangan risau - risau. Sediakan bekalan kurma di dalam kenderaan, andai masuk waktu Maghrib sewaktu sedang memandu. Apatah lagi apabila kerja/kuliah habis pukul 7 petang.
Sesungguhnya Ramadhan menguji kesabaran umat Islam di dalam pelbagai aspek, samada yang kita sedar tentangnya, atau tidak.

Wednesday, 10 September 2008

Ramadhan Pertama Dalam Hidupku

Alhamdulillah, ingatanku mampu mengenangkan sejauh tahun 1989. Pada tahun itu juga, aku masih ingat ayah bawa pergi berbuka puasa di Masjid Darul Ehsan, Subang Jaya (satu - satunya masjid di Subang Jaya ketika itu, USJ masih hutan/ladang sawit). Juga, ketika itu jugalah, kalau balik kampung, ayah selalu bawa pusing Istana Iskandariyah dekat dengan rumah Opah di Bukit Chandan, Kuala Kangsar, sebab ada banyak 'lampu raya'. Kenangan indah...

Namun, Ramadhan pertamaku, yang mana aku mula - mula berpuasa, ialah pada bulan Februari tahun 1994. Waktu itu aku menetap di Hammersmith, London. Bulan Februari juga merupakan musim sejuk. Pada kemuncak musim sejuk di London, Maghrib masuk seawal 4.00 petang, waktu Isya' biasanya dalam sela masa dua jam selepas Maghrib, Subuh selewat 6.45 pagi.

Kalau di kemuncak musim panas, Maghrib masuk selewat 10.00 malam, Isya' sekitar tengah malam, Suboh seawal 5.00 pagi. Nayalah kalau Ramadhan di musim panas...siang boleh mencapai 15 jam!!!

Sewaktu di London, waktu sekolah bermula pada jam 9.00 pagi, dan habis sekitar 3.00 petang. Waktu rehat (dinner-hour) yang memakan masa sejam adalah pada jam 1.00 petang. Oleh kerana aku berpuasa ketika itu, maka cikgu aku melepaskan aku pada jam 12.45 tengahari untuk pergi tidur di perpustakaan. Antara yang bersama di perpustakaan sewaktu itu adalah kawan baikku merangkap jiran, Othman Al-Jadir, budak Arab-Iraq, Mu'ath, budak Arab-Jordan, dan seorang lagi budak Algeria yang aku tak ingat namanya.

Biasanya sewaktu berbuka, ayah tiada, sebab tiba Maghrib, waktu pejabat ayah baru sahaja habis. Pada hari Isnin, Rabu, dan Jumaat, biasanya aku dan adik perempuan aku, Atiqah (Amanina dan Sakinah belum lahir lagi) akan berbuka di rumah Othman, sebab emak pergi kuliah jurusan Masters di King's College di tengah - tengah kota London. Tambahan, orang - orang Arab ini, mereka cukup suka kalau ada tetamu datang rumah. Tradisi Arab. Jadi, berlari - larilah aku di dalam rumah Othman, buat macam rumah aku.

Di dalam bulan ini juga, kami sekeluarga berpindah ke sebuah pekan bernama Reading, di dalam daerah Berkshire, lebih kurang 58 batu (90km+) ke Barat dari London.

Pada waktu inilah aku merasa azab berpuasa, berulang - alik dari London memindahkan barang - barang ke rumah baru. Sewaktu bersekolah di Reading, corak waktu persekolahannya sama sahaja. Cuma, pada waktu rehat (tempohnya lebih kurang sejam setengah), boleh keluar dari kawasan sekolah (macam universiti). Jadi, setiap waktu rehat sepanjang Ramadhan, aku dan adik aku akan pulang ke rumah.

Pada penghujung Ramadhan, kami pergi berbuka di sebuah rumah agam di Cobham. Tuan rumahnya orang Melayu Islam. Itulah kali pertama aku merasai iftar jama'ie di England. Apa yang seronoknya, kami umat Islam di dalam sasuatu lingkungan persegi hanyalah kecil. Di dalam kami dijemput tuan rumah, turut dijemput orang - orang Islam lain, Melayu atau tidak, yang kami tidak kenal.

Maka, berkenalanlah kami dengan orang - orang lain, khususnya komuniti Melayu yang menetap di England. Apabila berbuka, kami duduk di satu meja makan yang panjang. Tiba waktu Tarawikh, aku dan kanak - kanak yang lain akan bermain di ruang tamu. Tapi kebanyakan masanya aku akan duduk di depan unggun api fireplace di dalam ruang tamu tersebut. Jakun katakan, di rumah hanya ada pemanas (radiator/heater).

Sesungguhnya, kita memang merasa seronok apabila berada di kalangan sesama Muslim, apatah lagi apabila mereka bukan bangsa kita. Setiap kali aku ke luar negara, memang akan merasa solat bersama - sama orang Islam tempatan. Apatah lagi mereka lain kaedahnya di dalam solat mereka dan kebanyakan hal lain, termasuk budaya kehidupan. Namun yang seronoknya apabila melihat mereka berdakapan sesama sendiri setelah selesai solat, atau ketika di pintu masuk masjid/ islamic center.

Kalau katakan ada program komuniti bulanan/tahunan di masjid/pusat - pusat Islam, penuhlah tempat itu. Silap hari solat di tepi jalan.

Apabila kita satu komuniti yang minoriti, ukhuwwah sesama kita memang kuat/mantap. Namun apabila menjadi satu komuniti yang majoriti, ukhuwwah tetap ada, tetapi tidaklah semantap orang - orang yang minoriti, sebab mereka sedar, apabila minoriti, amatlah perlu untuk menjaga dan memelihara satu sama lain.

Monday, 8 September 2008

RAMADHAN MALAYSIA - Episod 2: Berbuka

(sambungan dari Episod 1)

Apabila semakin hampir dengan waktu berbuka, maka semakin bergelora nafsu makan. Yang mengasapkan dapur, akan mula memikirkan resepi yang dahsyat - dahsyat.

Yang melilau di pasar Ramadhan akan membeli apa sahaja yang nampak sedap, kalau boleh satu jenis dari setiap gerai nak beli.

Yang berbuka di kedai makan (i.e. Chicken Rice Shop, Pizza Hut dll.), sejam dua sebelum berbuka sudah 'chop' (menempah) meja makan. Pukul 6 dah siap duduk.

Tiba waktu berbuka, maka dapatlah dilihat juadah yang dibeli/dimasak di atas meja makan. Kalau bersederhana, maka sederhanalah juadahnya. Kalau eksotik nafsu, eksotik - eksotik belaka lah juadahnya.

Kita diajar, apabila masuknya waktu berbuka, maka berbukalah dengan segera. Mulakan dengan sebiji buah kurma. Mengapa? Sebab buah kurma mengandungi kandungan gula yang tinggi, yang berperanan mengembalikan tenaga kepada badan kita.

Satu benda yang sebilangan orang lupa, seharian kita berpuasa perut kita berehat. Maka apabila berbuka, berbukalah perlahan - lahan. Jangan terus melahap. Terkejut perut kita. Kes ini sama dengan enjin kereta yang sejuk.

Apabila menghidupkan enjin yang sejuk, kita kena memandu dengan perlahan - lahan dahulu, lebih kurang 50km/j sehingga enjin mencapai suhu operasi biasa (normal running temperature). Dari situ, baru kita boleh tingkatkan kelajuan kenderaan sedikit demi sedikit.

Kalau hidupkan enjin terus meluru 100km/j, jahanamlah enjin tu di jangka masa yang panjang, sebab sewaktu enjin masih sejuk, minyak hitam masih belum meliputi keseluruhan sistem enjin, maka bergeserlah piston dengan silinder, lalu menghakisnya sedikit demi sedikit. Jangka masa pendeknya, minyak jatuh menjunam, enjin kasar, dan seolah - olah lesu tak ada tenaga.

Sama juga dengan kes berbuka; awal - awal dah melahap, sakit perutlah jawabnya (enjin kasar). Kalau kata perut dia kebal, dia akan kepenatan kemudiannya (enjin lesu tak ada tenaga), yang membawa kepada tak larat nak pergi solat tarawikh, kerana proses metabolisme membuat kita mengantuk, apatah lagi kalau mentekedarah sewaktu berbuka.

Sebaik - baik kaedah berbuka, mulakan dengan memakan kurma dan meminum air. Selepas itu, tunaikan solat Maghrib. Selesai solat, barulah makan, itupun makan yang ringan - ringan seperti kuih - muih, bubur, atau makanan yang cepat hadam (sesetengah ulama' mencadangkan memakan sup sebab senang hadam). Selepas itu, bersiap untuk pergi solat Isya' dan tarawikh. Pulang dari solat tarawikh, baru makan yang berat.

Dengan cara ini, solat Maghrib dapat dikerjakan lebih awal agar tidak terkejar - kejar sewaktu makan, solat Isya' dan tarawikh tidak terlepas atau berasa letih dan mengantuk selama mengerjakannya. Pada masa yang sama, perut ada masa nak mula memanaskan 'enjinnya'.

Jika kita mengimbas sejarah konfrontasi Malaysia - Indonesia dahulu, tentera - tentera Indonesia lebih kurang dua minggu tidak makan. Apabila tiba bantuan makanan, dilahapnya makanan itu sekaligus. Satu periuk sekali harung. Tidak lama kemudian, mereka mati kerana sakit perut (jahanam enjin).

Maka, berpada - padalah ketika berbuka. Sesungguhnya Ramadhan mengajar kita bukan sahaja menahan lapar dan dahaga, tatapi juga mengawal nafsu amarah kita.

Sunday, 7 September 2008

RAMADHAN MALAYSIA - Episod 1:Nafsu Makan

Maka berkunjunglah sekali lagi Ramadhan Karim Al-Mubarak, tatkala diwajibkan ke atas umat Islam untuk berpuasa pada siang harinya. Berpuasa dikatakan dapat menginsafkan kita di dalam beberapa hal, salah satunya mengenangkan kita kepada orang - orang miskin yang kelaparan bukan sahaja pada suatu bulan yang tertentu, tetapi sepanjang tahun, bahkan sebahagian besar daripada tempoh hayat mereka.

Namun adakah kita yang berpuasa ini merasa perit sepertimana peritnya orang - orang Somalia? Adakah kita merasa lapar sepertimana laparnya orang - orang Darfur, Sudan?

Dalam kita berpuasa, kita masih mengagung - agungkan nafsu makan minum, serta nafsu materialistik.

NAFSU MAKAN

Kaya atau miskin, susah atau senang, setiap orang ada nafsu makan. Dan apabila terkenangkan makan, maka setiap individu mempunyai suara yang berbeza menghuraikan kelaparannya.

Orang miskin: "Apakah yang hendak kita makan?"
Orang kaya: "Di manakah hendak kita makan?"
Orang politik: "Siapakah yang hendak kita makan?"


Di dalam dunia hari ini, apa - apa sahaja boleh dijadikan modal atau aset untuk menambah pendapatan mereka. Di dalam bulan Ramadhan, nafsu makan minum orang - orang yang berpuasa turut dijadikan modal, dan hasilnya, wujudlah bazar - bazar Ramadhan di serata negara, yang menyajikan pelbagai jenis juadah, sebahagian daripadanya makanan atau minuman yang tak pernah dilihat di luar bulan Ramadhan.

Pada kebiasaannya, pengusaha gerai - gerai di bazar - bazar Ramadhan terdiri dari peniaga pasar malam, pengusaha warung makan, dan yang sealiran dengannya. Namun, dek kerana keuntungan yang dihasilkan di bazar - bazar Ramadhan, ianya turut menggalakkan golongan eksekutif, CEO syarikat - syarikat besar untuk memohon cuti sebulan dan turut serta meniaga makanan di bazar - bazar Ramadhan. Di kediaman penulis di Subang Jaya,Selangor, tapak bazar juga turut ditempah oleh Pan-Pacific Hotel.

Nafsu makan orang yang berpuasa turut juga digunakan oleh restoran - restoran utama seperti KFC, McDonald's, Pizza Hut, Nando's untuk mengumpan orang - orang yang berpuasa ke kedai - kedai mereka dengan memperkenalkan kombo - kombo berbuka puasa. Nak bagi nampak 'Islamik' sikit, maka disertakan sekali kurma sebiji, dan air selasih ke dalam pakej berbuka mereka.

Pada masa yang sama, hotel - hotel ternama di serata negara turut tidak terlepas daripada merebut peluang keemasan apabila mereka pun turut serta membuat promosi berbuka puasa:

BUFET BERBUKA PUASA HOTEL XXXXX
Tema: Mediterennean, Oriental, Western, BBQ dsb.
Harga: Dewasa (RM 25.00), Kanak - Kanak (RM 22.50)

Berbuka sehingga mencecah RM 25 seorang? Ini bukan berbuka puasa, tetapi MENTEKEDARAH namanya!!!

Kalau ikut pengalaman penulis, apabila makan bufet di hotel, masuk perut kosong, keluar wajib busung, sebab kalau tak busung, hangus begitu sahaja duit kita; bayar mahal - mahal, makan sepinggan. Tambahan pula, tempoh makan bukannya 5 - 10 minit, tetapi melepasi sekurang - kurangnya setengah jam.

Maka, kenang - kenangkanlah, dengan suasana berpuasa pada hari ini, adakah benar - benar kita berpuasa seperti yang dituntut ugama, atau sekadar cukup syarat? Tepuk dada, tanya iman...

Episod 2: BERBUKA